“Maka penatlah tangan Musa, sebab itu ia mengambil sebuah batu, diletakkanlah dibawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam.” (Keluaran 17:12)


Berserah atau Menyerah?


Saya pernah mendengar seorang Kristen yang nyaris putus asa berkata, “Tolong doakan saya, aku rasanya tidak kuat lagi menghadapi semua ini. Sepertinya mau menyerah saja!” Apakah perasaan yang sama sempat muncul dalam pikiran Musa bahkan Harun dan Hur ketika itu? Secara manusia mungkin saja, karena melihat keganasan Amalek yang begitu kuat. Mereka harus dihadapi, harus diperangi, dan tidak ada kata mundur. Namun musuh ini tidak sekedar dihadapi dengan kekuatan perang secara fisik, tetapi ini peperangan secara rohani (cf. Efesus 6:10-12). Ketika Musa berdoa mengangkat tangannya, di sana ada kunci kemenangan. Namun Musa tetap memerlukan topangan dan kesatuan hati dari Harun dan Hur. Musa sendiri sebagai manusia biasa bisa penat, letih dan lelah. John Hannah menjelaskan, “Ketika Musa mengangkat kedua tangannya, itu melambangkan ketergantungan total bangsa Israel pada kuasa Allah. Ketika Musa menurunkan tangannya, merupakan gambaran kurangnya ketergantungan pada Allah, dan musuh pun menang. Dengan topangan Harun dan Hur, tangan Musa tetap terangkat, maka kemenangan pun diperoleh.” Tangan Musa yang terangkat menunjukkan pentingnya doa dinaikkan kepada Allah sumber kekuatan dan kemenangan.


Bagaimana kita melihat fakta adanya Covid-19 yang mengancam kehidupan manusia? Dari hari ke hari, sementara pemerintah dan paramedic bahkan banyak relawan berada di garda depan berjuang menolong para pasien, semakin banyak orang di berbagai belahan dunia berdoa memohon pertolongan Tuhan. Percaya bahwa Allah yang memegang kendali atas segala ciptaan-Nya sanggup menjawab doa umat-Nya (cf. 2 Tawarikh 7:14). Biarlah kuasa kebangkitan Kristus memberi kita kekuatan dan semangat baru setiap hari. Kita yang terbatas harus bergantung pada Dia yang tidak terbatas, sehingga kitta tidak mudah penat, lemah dan menyerah. Serahkanlah segala kekuatiran kita kepada-Nya (1 Petrus 5:7).


Inspirasi: Kidung Jemaat 363: “Bagi Yesus kuserahkan, hidupku seluruhnya; hati dan perbuatanku; pun waktuku miliknya. Bagi Yesus semuanya; pun waktuku miliknya. Bagi Yesus semuanya; pun waktuku milik-Nya”


Sumber: renungan harian LPMI