Semua orang pasti ingin memperoleh damai di dalam hidupnya, walau tidak  semua orang mau menjadi pembawa damai.   Istilah Ibrani 'shalom' (damai sejahetra), berarti berarti tenang, tidak ribut,  tidak ada kejahatan, tidak ada kepura-puraan. Di tengah masa pandemic Covid-19 ini rasanya untuk menemukan  damai tersebut. Damai menjadi barang langka karena manusia diperhadapkan dengan satu kondisi di mana rasa takut, kuatir dan gelisah menghantui kehidupan.  Kondisi krisis kesehatan yang berimbas pada krisis sosial dan krisis ekonomi, menjadi penyebab utamanya.
Dengan demikian kedamaian dan ketenangan menjadi sesuatu yang sulit ditemukan. Tetapi bagi kita sebagai anak Tuhan seharusnya damai itu sepatutnya sudah menjadi sesuatu yang terpatri di dalam hati kita, karena kita adalah anak-anak Allah yang mencerminkan damai itu sendiri.  
Damai itu selalu dirasakan menyenangkan hati karena segala sesuatu yang dilakukan bertujuan untuk kebaikan bersama. Jadi damai itu bisa juga diartikan efek dari hasil kebaikan.  Umumnya setiap kita bertemu dengan orang lain untuk pertama kali pada hari itu, kita  berjabat tangan atau bersalaman, artinya kita ingin mengatakan semoga ada damai dan sukacita pada saat bertemu.
Jika kita sudah bersalaman, maka kita berkeinginan untuk merasakan damai pada pertemuan itu, berarti tidak boleh ada percakapan bohong, kebencian, gosip. Percakapan  atau pertemuan melulu hanya untuk menyenangkan hati tanpa ada unsur ketidakbaikan.
Jika dikatakan membawa damai berarti kita selalu berniat hanya untuk berbuat kebaikan bagi sesama. Membawa damai berarti juga rela berkorban menahan diri walau harus menderita, yang penting tidak tercipta keributan. Jadilah pembawa damai dan pengharapan di tengah situasi di mana tidak ada damai dan pengharapan.

Sumber: https://www.facebook.com/renungannilaikehidupan/