Ibadah itu bukanlah sekedar aktivitas rohani yang biasa kita lakukan di gereja setiap hari Minggu atau saat menghadiri persekutuan-persekutuan.  Banyak orang Kristen menganggap bahwa ibadah kepada Tuhan adalah perkara yang biasa atau sekedar kewajiban yang harus dikerjakan.  Perhatikan baik-baik!  Ibadah itu bukan sekedar duduk, menyanyi, mendengarkan koor, mendengarkan kesaksian, memberikan persembahan  (kolekte), dan mendengarkan hamba Tuhan berkhotbah.



  Melalui renungan ini kita diingatkan tentang pentingnya arti ibadah.  Ibadah yang dilakukan dengan sembarangan, tanpa kesungguhan hati dan takut akan Tuhan, tidak akan menghasilkan kuasa.  Karena itu  "Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah ! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat."  (ayat nas).  Kata  'jagalah'  mengandung unsur kewaspadaan, karena setiap orang selalu mengalami pergumulan terlebih dahulu sebelum melangkah ke tempat ibadah.  Tujuan kita datang beribadah ke rumah Tuhan adalah untuk bertemu dengan Tuhan secara pribadi, melihat wajah-Nya dan merasakan hadirat-Nya, serta untuk mendengar pengajaran firman Tuhan.  Inilah esensi ibadah!


  Saat kita beribadah kepada Tuhan sesungguhnya kita juga sedang berada di dalam peperangan rohani, yaitu apakah kita benar-benar mencari hadirat Tuhan atau mencari yang lain.  Tidak sadarkah kita bahwa ketika kita melangkah ke rumah Tuhan, kita sedang menuju takhta Tuhan yang Mahakudus?  Pemazmur menyatakan,  "TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus;"  (Mazmur 11:4a), dan orang yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus adalah  "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat  dari TUHAN"  (Mazmur 24:4-5).


Ibadah yang berkenan kepada Tuhan pasti mendatangkan berkat dan pemulihan! Renungan disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Januari 2020